
Ini yang sebaiknya kamu lakukan
IHSG Anjlok Membuat Investor Mulai Panik
Pagi itu, Anda membuka aplikasi investasi sebelum mulai bekerja.
Beberapa saham yang sebelumnya masih mencatatkan keuntungan kini berubah merah. Nilai portofolio turun, sementara berita tentang pasar saham dipenuhi kata “melemah”, “tertekan”, dan “anjlok”.
Kekhawatiran seperti ini sangat wajar, terutama bagi pekerja yang menyisihkan sebagian gaji untuk berinvestasi. Uang yang digunakan bukan datang dengan mudah. Anda memperolehnya setelah bekerja keras, memenuhi target, dan mengatur berbagai kebutuhan keluarga.
Ketika IHSG anjlok, penurunan nilai portofolio terasa seperti hasil kerja keras yang ikut menghilang.
Namun, masalah terbesar dalam kondisi pasar yang melemah bukan hanya turunnya harga saham. Masalah yang lebih berbahaya adalah mengambil keputusan besar ketika pikiran sedang dikuasai rasa takut.
Menjual Saham karena Panik Bisa Memperbesar Kerugian
Harga saham memang dapat turun ketika IHSG mengalami tekanan.
Penurunan tersebut bisa dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, perubahan suku bunga, gejolak global, aksi jual investor, sentimen politik, hingga kekhawatiran terhadap kinerja perusahaan.
Jangan Biarkan Portofolio Merah Mengganggu Keuangan Keluarga
Penurunan pasar dapat terasa lebih menakutkan apabila dana investasi berasal dari uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting.
Anda mungkin membutuhkan uang tersebut untuk membayar biaya sekolah, cicilan rumah, kebutuhan kesehatan, atau keperluan keluarga lainnya.
Apa yang Harus Dilakukan Ketika IHSG Anjlok?
1. Tenangkan Diri Sebelum Mengambil Keputusan
Langkah pertama adalah mengendalikan emosi.
Hindari mengambil keputusan hanya beberapa menit setelah melihat portofolio memerah. Rasa takut dapat membuat risiko terlihat lebih besar daripada kondisi sebenarnya.
2. Periksa Kembali Fundamental Perusahaan
Ketika IHSG anjlok, lakukan evaluasi terhadap perusahaan di dalam portofolio.
Periksa perkembangan pendapatan, laba bersih, utang, arus kas, dan prospek bisnis perusahaan
Jika fundamental perusahaan masih sehat, penurunan harga belum tentu menjadi alasan untuk menjual.
3. Bedakan Penurunan Harga dan Penurunan Kualitas Bisnis
Harga saham dan kualitas perusahaan adalah dua hal yang berbeda.
Harga dapat berubah setiap hari karena aktivitas pasar. Sementara itu, kualitas bisnis biasanya berubah melalui perkembangan kinerja perusahaan dalam periode yang lebih panjang.
Saham yang turun 10% belum tentu menjadi saham buruk. Sebaliknya, saham yang terlihat murah belum tentu layak dibeli.
4. Periksa Tujuan dan Jangka Waktu Investasi
Keputusan menjual atau bertahan perlu disesuaikan dengan tujuan investasi.
Jika tujuan Anda masih beberapa tahun ke depan, penurunan pasar dalam jangka pendek mungkin tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.
Namun, jika dana tersebut akan digunakan dalam waktu dekat, Anda perlu mengevaluasi kembali tingkat risiko portofolio.
5. Evaluasi Batas Risiko dan Strategi Cut Loss
Cut loss bukan tanda bahwa seseorang gagal berinvestasi.
Cut loss merupakan salah satu strategi untuk membatasi kerugian ketika pergerakan harga atau kondisi perusahaan tidak lagi sesuai dengan rencana.
Namun, keputusan cut loss sebaiknya ditentukan sebelum membeli saham, bukan ketika rasa takut sudah menguasai pikiran.
6. Hindari Menggunakan Utang untuk Membeli Saat Harga Turun
Ketika IHSG anjlok, sebagian orang melihatnya sebagai kesempatan membeli saham dengan harga lebih rendah.
Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Penurunan pasar memang dapat menghadirkan saham berkualitas pada valuasi yang lebih menarik.
Namun, kesempatan tersebut harus dihadapi dengan perhitungan.
7. Lakukan Diversifikasi Portofolio
Menempatkan seluruh dana pada satu saham dapat meningkatkan risiko.
Jika perusahaan tersebut menghadapi masalah, nilai portofolio Anda dapat turun secara signifikan.
Diversifikasi membantu membagi risiko ke beberapa perusahaan atau sektor yang berbeda.
8. Pastikan Saham Memenuhi Prinsip Syariah
Bagi investor saham syariah, evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap potensi keuntungan.
Anda juga perlu memastikan saham tersebut masih memenuhi kriteria efek syariah.
Periksa apakah saham tercatat dalam Daftar Efek Syariah dan kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
IHSG Anjlok Bisa Menjadi Risiko atau Peluang
Penurunan pasar dapat menjadi risiko bagi investor yang tidak memiliki persiapan.
Namun, bagi investor yang memiliki dana terencana, memahami fundamental, dan menjalankan strategi, kondisi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi portofolio.
Saham perusahaan berkualitas terkadang ikut turun karena kepanikan pasar.
Meski demikian, jangan terburu-buru membeli hanya karena harga terlihat lebih murah.
Harga yang sudah turun masih dapat turun lebih dalam. Karena itu, lakukan pembelian secara bertahap dan tetap sesuaikan dengan batas risiko.
Ingat, tujuan investasi bukan menebak titik terendah pasar.
Tujuannya adalah membeli perusahaan yang baik pada harga yang masuk akal, kemudian mengelola risiko dengan disiplin.
Belajar Menghadapi IHSG Anjlok dengan Lebih Terarah
IHSG anjlok bukan berarti Anda harus langsung menjual seluruh saham atau berhenti berinvestasi.
Periksa kembali kualitas perusahaan, tujuan investasi, jangka waktu, dan kemampuan Anda dalam menanggung risiko.
Jika alasan awal pembelian masih kuat dan fundamental perusahaan tetap sehat, bertahan dapat menjadi pilihan. Namun, jika kondisi perusahaan memburuk dan tidak lagi sesuai dengan strategi, menjual saham dapat menjadi tindakan yang rasional.
Apabila Anda ingin memahami cara menganalisis saham syariah, menyusun portofolio, dan mengelola risiko ketika pasar bergejolak, mulailah belajar secara terarah.